Wednesday, November 13, 2013

Belajar Memotret (menyalin dari facebook)

Sabtu-Minggu kemarin aku ikut kursus singkat memotret di kantor istri.
Memotret sudah kulakukan sejak SMA dulu. Mulai dari acara keluarga sampai acara sekolah, pernah kupotret. Meski demikian, memotret sebenarnya momen langka, pasalnya kameranya masih manual dan menggunakan film. Dihitung bersama cuci cetak, memotret jadi tidak murah. Ketika akhirnya memiliki kamera digital, setelah menikah, barulah praktek memotret jadi lebih leluasa.

Meski kian sering memotret, ilmu memegang kameraku sebenarnya bisa dibilang nol koma. Aku hanya tahu memasang film, dengan ASA terendah agar murah, mengintip di lubang bidik, mengatur fokus lalu jepret. Ketika sampai pada kamera digital, yang hilang hanya ritual memasang dan membuka film seluloidnya, selebihnya masih sama. Komposisi yang kupilih selalu super normal, taruh obyek di tengah, sudah puas kalau obyeknya tertangkap terang benderang atau sebaliknya sekedar siluet dangkal yang didapat dari kebetulan. Mana kutahu tentang apa itu kecepatan, bukaan,over/underexpose, apalagi, seperti yang hendak kuceritakan kemudian, tentang photo yang bercerita.

Bila selama ini aku merasa cukup puas dengan photo-photo yang kuambil, mungkin karena yang melihat photo-photoku itu orang yang lebih awam soal photo daripada diriku atau, jangan-jangan, mereka hanya berusaha sopan padaku, agar minatku memotret lagi tak lekas padam.

Diam-diam sebenarnya aku sadar ilmuku ini perlu, sangat, ditambah. Bukan karena aku mengenal beberapa photografer terkenal, bukan pula setelah beberapa kali aku menemani pemotretan oleh tukang photo di media di mana aku pernah bekerja, bukan. Penyebabnya adalah istriku, Wiwit Siswarini. Sejak kuliah dia telah ikut klub photografi. Pemahaman tentang cara kerja kamera, mengambil photo dan berikutnya, tentulah berada jauh di depanku. Dia pula yang berinisiatif Beberapa kali dia berusaha mengajari, tepatnya memberitahu dengan sopan (maklum kepada suami, ;p) bagaimana memperbaiki caraku memotret. Kebebalan ditambah selapis keangkuhanku, membuat pelajaran gratis dan sapaan sopan itu tak banyak mempan. Dari ajarannya dan jalan-jalan ke karya orang, minatku pada photografi memang sedikit menajam, aku suka pada photo-photo yang menampilkan kehidupan manusia. Sayang, skill memotretku tak kunjung jelas apalagi naik kelas. Menyadari ini, beberapa kali istriku menawariku ikut kursus photografi. Menyaksikan tarifnya yang lumayan mencekik, aku hanya mendiamkan tawaran itu.


Sampai beberapa minggu lalu, istriku kembali menawari ikut kursus memotret. Kali ini diadakan di area kantornya, dengan mentor yang tampaknya trengginas dan mumpuni, seorang bule, dan yang penting, biaya yang relatif murah. Beberapa hari sebelum kursus, aku sempat bertanya kepada istriku tentang komposisi peserta. Nyaliku menciut saat tahu, hanya aku yang pria. Selebihnya ibu-ibu dan dara. Aku akan jadi silent minority.


Tahu minatku menurun, istriku membesarkan hati, "tenang saja, ibu-ibunya funky kok, pasti rame."
Aku hanya diam, dalam hati bergumam, "lha iya jelas funky, sesama ibu-ibu."


Sekali lagi istriku benar. Aku sungguh tak perlu cemas. Meski minoritas, aku tak pernah tertindas. Mulai dari Mbak Lel, Mbak Susan, Mbak Dian, Mbak Pam, Mbak Rubeta (aka Jawir, aka Mamang), Mbak Rosita, Nadine dan ibunya, Ibu Atie dan the last but not the least, Levania, semua membuat kelas berlangsung dengan nyaman dan menyenangkan.

And here we go!

Seperti sudah kusinggung di awal, kelas photo yang kuikuti ini bergurukan seorang bule, bule Belanda, namanya Klass Stoppels yang sudah tinggal dan jatuh cinta kepada Indonesia sejak lebih 10 tahun lalu (www.klaasstoppels.com), kami memanggilnya Pak Klaas.

Levelnya Basic. Cocok untuk kami yang masih awam tentang photography. Kamera yang dibawa beragam, mulai dari pocket sampai DSLR, sebagian rupanya hasil pinjaman.

Meski belum pernah mengikuti kursus memotret sebelumnya, aku yakin, materi yang diajarkan Pak Klaas ini tidak jauh berbeda dengan kursus lainnya, yaitu materi mengenai pengenalan kamera dan teknik dasar memotret lalu praktek dengan cara hunting bersama.

Yang menarik adalah cara Pak Klaas mengungkapkannya.

Tentang kamera misalnya, Pak Klaas mengatakan kita memang perlu mengenali karakternya, tapi bukan untuk mematuhinya dengan membuta tapi memanfaatkannya. Apperture, Speed, ISO, mutlak dipahami (tambah lagi auto white balance dan metering), untuk kemudian agar bisa dimanipulasi. (You're the boss, not your camera! katanya menegaskan). Tentang manipulasi ini, Pak Klaas mencontohkan bagaimana dia "menipu" kameranya untuk mau membuka lensa lebih lama saat matahari terik (di mana berarti cahaya berlimpah, lensa akan membuka sedikit dan cepat), dengan menggunakan lensa gelap. Hasilnya tekstur gelombang air laut bisa tertangkap.

Tentang teknik memotret, kami berkenalan dengan, POI (point of interest), komposisi, light dan expose dan aturan-aturan tentangnya. Meski disebutnya aturan, Pak Klaas lagi-lagi mengajak kami untuk tak terlalu mematuhinya. Dia punya kata-kata emas, rules are made to be broken.

Pertanyaan diam-diamku (maklum minoritas, hehe), broken for what?

Jawabnya baru bisa kupahami setelah mengikuti kelas dua hari, ternyata ada di bagian definisi personalnya tentangphotography: The word “photography” actually comes from the words light and writing, therefore photography means writing with light. Bila menulis memanfaatkan kata, huruf dan tanda baca, maka memotret bercerita dengan permainan cahaya dan penangkapan obyek.

Karena itulah, berulang-ulang, saat mengevaluasi hasil photo kami, pak Klaas selalu menekankan what's the point? Hendak bercerita apa?

Dari potret tentang manusia misalnya, ia lebih menyukai photo tentang manusia yang berkarakter. Karakter itu bisa muncul dari phisik manusia itu sendiri, kulit yang kisut, hitam, tubuh yang doyong ringkih, muka yang kusam. Semua tanda phisik itu menandakan perjalanan waktu dan sejumput kisah yang membentuknya. Selalu ada cerita yang dibawanya. Semula dari contoh-contohnya tentang manusia yang "menderita" itu, aku mengira itulah namanya "bercerita" tapi setelah menunjukkan bahwa photo orang tertawa atau beraktivitas juga bisa bercerita, barulah aku paham bahwa aktivitaslah yang membuat photo manusia bisa "bercerita." Baik itu aktivitas yang telah lampau atau pun tengah terjadi (bergerak, tertawa, cemberut, memukul dan seterusnya)
Kalau manusia bercerita melalui aktivitas, bagaimana pula cara alam bercerita?
Alam bercerita juga melalui tanda-tanda phisiknya yang menonjol. Mulai dari warna, posisi, hingga tekstur benda.
Tekstur, melalui itulah sebuah obyek bercerita. Karena itu atas photoku tentang daun jatuh tersorot matahari, Pak Klaas menyarankan sebaiknya mencari daun yang lebih muda, karena yang kupilih terlalu tua dan kuning sehingga susah ditangkap teksturnya.

Air danau dan langit, teksturnya muncul dari riak air dan tumpukan awan.

Tekstur memunculkan kedalaman. Kedalamanlah yang membawa cerita. Kedalaman ini yang kerap gagal hadir dalam trend photo landscape akhir-akhir ini. Photo-photo landscape kerap terjebak pada kedataran (plainness). Saat memotret gunung dan lembah, photo menjadi gagal kalau yang tampak adalah suasana datar, jauh dekat dalam sebuah photo menghilang.



Baru kini aku paham.


Sebelum menjadi photografer, Pak Klaas adalah seorang pembuat film dan bekerja untuk kepolisian Belanda. Meski filmographer, dia mengaku buta tentang photo. Yang membuatnya tertantang untuk memotret ketika tahu bahwa foto diharapkan bisa menyampaikan apa yang biasa disampaikan oleh video melalui beberapa frame dan durasi tertentu, hanya dengan satu frame saja. Tugas sebuah photo inilah yang mendorong pak Klaas terus belajar photografi hingga menjadi seorang profesional dan pengajar seperti sekarang.


Dari kredo itu pula, Pak Klaas sangat menekankan pentingnya makna dari setiap photo. Komposisi, expose, speed,apperture, landscape style atau pun macro, semuanya semestinya dipilih untuk menyampaikan sesuatu. Sekali lagi, mengutip pak Klaas, rules are made to be broken
Broken for what?
To make the photos tells a story


Pada akhirnya, datang juga kata-kata sakti untuk menghibur pemula seperti diriku
You won't get a bad photo, you only have a bad photographer

(Kemampuan memotretku setelah ikut kursus ini, tidak serta merta meningkat, tentu saja. Butuh latihan, latihan dan latihan untuk ke sana, tapi setidaknya kepekaan untuk memahami photo telah bertambah. Sebagaimana bertambah-tambahnya cinta pada istri. Terima kasih Pak Klaas, terima kasih teman-teman sekelas, sepenuh cinta untuk istriku)


Tambahan: Perjalanan
Kursus ini diadakan di kantor istriku. Di tengah sebuah hutan rimbun, sejuk, dengan komplek bangunan yang tertata baik, kukuh, fungsional dan indah.


Berangkat aku diantar istri, pulang sendiri. Ini kali kedua aku ke sana. Dulu pertama, mengantar dengan sepeda motor, pulang mencoba rute baru dan sampai ke rumah dengan kelelahan sangat. Hari pertama aku pulang naik bis, hari kedua naik kereta. Hasilnya sama: lelah bermandi keringat.
Perjalanan ini membuka mataku lebih lebar.
Betapa jauh dan melelahkan rute yang ditempuh istriku setiap hari.
Anehnya dia selalu pulang dengan senyum, kecuali kalau aku terlambat menjemput di simpang. Kini aku semakin tahu, kenapa pas aku terlambat, senyumnya cepat menghilang.

Cipete Utara, 17 Februari 2011

Yogyakarta (Masihkah) Kota Pendidikan?

Tulisan tahun 2009
(Awalnya menanggapi satu kiriman di milis yang menanyakan masa depan Yogya sebagai kota pendidikan, ditandai trend menurunnya jumlah siswa/mahasiswa yang melanjutkan sekolah ke Yogya) 


Saya setuju dengan dugaan seorang teman di milis dengan nama email Juragan Soekarno bahwa status Yogya sebagai kota pendidikan semakin terancam. Alasannya Yogya kini semakin kerasukan gaya hidup hedonis, bahkan akses ke situ lebih mudah (dan murah?) daripada kota Jakarta.
Mungkin saja itu benar, karena sudah lama tidak meninggalkan Yogya dan kalau sempat berkunjung tidak sempat mengamati kehidupan sekitar kampus secara cermat.
Yang segera terasa memang Yogya semakin macet. Kendaraan bermotor semakin banyak, bangunan baru juga tumbuh pesat. Dan cilakanya, tanpa karakter yang jelas. Arsitektur bangunan-bangunan baru itu berani mencampurkan bermacam gaya. Kecuali ukurannya yang jarang terlalu besar, hampir tak tampak lagi ciri kesederhanaan dan keramahan Yogya sebagaimana saya temui dulu.
Romantis amat ya? He he
Kampus-kampus (termasuk UGM) sepertinya tak luput dari gemuruh pembangunan gedung-gedung baru ini. Bahkan UGM kini tak malu-malu lagi membangun pagar pembatas dan gerbang yang kukuh angkuh untuk mencegah sembarang orang melintas di halamannya. Seorang teman dengan jitu menangkap ironi ditengah hingar bingar pembangunan ini, saat dia menengok perpustakaan (Saya sendiri tak kepikiran untuk ke sana, he he). Tak banyak perubahan pada bangunan perpustakaan itu. Tetap kusam dan tua. Itu mungkin sebabnya dia tetap kalah ramai dengan pusat perbelanjaan yang ada tak jauh darinya. Entah koleksinya, cuma sepertinya sekarang ada tambahan akses internet yang agak menaikkan daya tariknya di mata mahasiswa dan calon pengunjung lainnya.
Perpustakaan adalah salah satu tetenger (landmark) lembaga pendidikan. Di dalamnya tersimpan biographi kampus yang memangkunya. Bila sekarang pemangkunya lebih sibuk dengan bagian lain dari dirinya, bisa dibayangkan seberapa peduli sebenarnya kampus sekarang dengan misi awalnya?
Saya jadi teringat sentilan dari, kalau tak salah, Ashadi Siregar yang mempertanyakan klaim UGM sebagai universitas kerakyatan. Dulu mungkin klaim seperti itu bisa dibuktikan dengan adanya orang seperti Mubyarto yang dengan tekun dan gigih menggali, menyusun dan menyebarluaskan apa yang disebut ekonomi "kerakyatan" pancasila (yang sayangnya tak pernah kupahami dengan memadai). Lalu adanya mahasiswa dari berbagai daerah dan etnis dan terutama dari berbagai kelas sosial. Hanya saja, klaim tersebut harus diperkuat lagi dengan pengembangan kurikulum yang memang berpihak pada rakyat. Tidak begitu saja membebek pada agenda-agenda pembangunan.
Lagipula, apa yang sesungguhnya membedakan materi pelajaran di UGM, UI, Unpad, Tadulako, USU atau Cendrawasih?
Rasa-rasanya, itu cuma masalah kelengkapan materi ajar dan bahan rujukan saja. Tidak ada beda mencolok antara, misalnya sosiologi yang diajarkan di UI dan UGM, karena sesungguhnya materinya sama-sama impor. Belum ada rasanya sosiologi atau ekonomi yang khas UGM atau UI atau Unpad, sebagaimana misalnya orang bisa membedakan antara materi kuliah di Eropa yang historis dan Amerika yang pragmatis. Atau antara ekonomi universitas anu yang keynessian dan ekonomi institut ini yang monetaris.
Saya tidak tahu seberapa luas sentilan itu beredar dan seberapa jauh dampaknya terhadap pengembangan kurikulum pengajaran di UGM sampai saat ini. Yang jelas dengan bergantinya status badan hukumnya, UGM tak terelakkan kini jadi semakin mahal (ada yang bisa kasih data berapa?). Sulit membayangkan akan menemui mahasiswa dari strata bawah, apalagi bila dia hanya punya kecerdasan biasa-biasa saja, seperti halnya saya, berkeliaran di kampus UGM dalam 5 tahun ke depan.
Bila UGM, yang merupakan lokomotif kota pendidikan saja telah kian mahal (untuk tidak menyebutnya komersial), logis saja rasanya bila kita menemukan Yogya pun menjadi kian mahal dan urban. Hedonisme adalah anak haram dari urbanisasi. Tak diharapkan apalagi diakui, tetapi selalu lahir dari rahim kota.
Apa pendidikan yang baik memang harus selalu berarti murah dan berada di kota yang biaya hidupnya murah juga?
Saya nggak bisa jawab.
Beralihnya tempat kuliah ke negeri tetangga, sepertinya juga bukan alasan lebih murah (semurah-murahnya, ya hidup di negeri orang), tapi karena kualitas.
Kualitas lembaga pendidikan dari mana? Ya dari spirit awal lembaga pendidikan itu sendiri, penelitian dan pengembangan, dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat.
Lembaga pendidikan yang bagus, bukanlah yang mengabdi pada kepentingan saat ini tapi yang secara serius mempersiapkan masa depan.
Ini maunya apa to, dari ngomongin kota kok sampainya ke ideologi kampus?
Maksud saya, mempertanyakan masa depan kota pendidikan Yogyakarta, sepertinya tidak akan cukup bila hanya melihatnya dari pertumbuhan jumlah murid dan mahasiswanya saja, atau semakin tapi mungkin perlu juga menengok lebih jauh ke dalam, ruh dan desain pengembangan pendidikan itu sendiri.
Mau dibawa kemana pendidikan di Yogyakarta?