Friday, July 28, 2006

Pindah kerja



Sudah beberapa kali aku pindah kerja.
Kerja pertamaku, tahun 1999, adalah menjadi wartawan di sebuah harian kota kelahiran.
Februari, 2000, saat menghadiri perkawinan seorang teman di Bandar Lampung, aku mendapat kabar ada lowongan untuk bekerja di Jakarta.
Dengan bersembahsujud pada ibuku, aku mendapat ijin untuk berangkat ke Jakarta, keduakalinya meninggalkan lagi ibuku, setelah yang pertama pergi untuk kuliah.
Cuma tahan dua bulan, aku pindah ke sebuah situs berita online. Ini sangat menyenangkan hatiku, yang memang suka pada internet.
Hampir setahun kemudian, gelombang surut internet melanda kantorku. Kantorku tutup.
Aku gamang. Tidak tahu mau kerja apa.
Sekali pun aku jadi rudin, nginep di kantor organisasi, aku belum tergerak untuk cari kerja lagi.
Untung ada teman yang mengajak kerja freelance.
Saat akan menikah, barulah aku dapat kerja tetap lagi, di sebuah majalah.
Rasanya baru kali ini aku mendapat pelajaran cara kerja wartawan yang baik.
Menarik, sangat menarik. Jadi tahu dan bangga pada kerja wartawan.
Sayang gajinya hanya layak untuk bujangan.
Enam bulan di sana, aku cabut. Pindah ke proyek organisasi.
Berjalan hampir setahun, aku lompat lagi, masuk ke sebuah yayasan milik sutradara terkenal.
Hampir dua tahun di sana, aku pun pindah lagi.
Ke sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayang olehku.
Tapi pekerjaan ini pula yang mengantarku ke sebuah lembaga internasional. Dan sekarang aku sedang bersiap pindah lagi.
Perpindahan paling serius dalam hidupku.
Aku akan masuk dalam lingkungan dengan disiplin tertinggi yang pernah akan aku masuki.
Sejak tahu akan diwawancara, aku sudah panas dingin.
Untung wawancaranya lancar.
Pagi, beberapa minggu lalu, HPku berdering.
Aku diterima.
Aku agak gelagapan.
Setengah tak percaya aku diterima.
Tawar menawarnya tak begitu rumit
Yang berat adalah memberitahu tempatku bekerja sekarang.
Sampe mules.
Soalnya adalah, ada beberapa proyek yang membutuhkan kehadiranku.
Kalau aku tak ada bagaimana ceritanya?
Dengan menguatkan hati, aku mengirimkan surat pengunduran diri.
Hari ini suratku direspon.
Ternyata lebih lancar dari yang kuduga.
Ah leganya.
Semoga ini jadi cambuk agar aku bisa lebih optimal di tempat baru.
Sedihnya, aku akan ke sana, tanpa anak istri.
........... (nglangut lagi)

Jakarta, 28 Juli

Tuesday, July 18, 2006

Teman akan menikah

Seorang teman akan menikah.
Teman lama, pernah cukup akrab, sekarang karena akan sekota lagi, Insya Allah akan akrab lagi.
Teman ini, entah karena apa, pernah berikrar tidak akan menikah. "Menikah itu kebutuhan, bukan kewajiban, aku tidak butuh menikah," jelasnya.
Melalui proses yang agak berbelit, dia akhirnya bertemu sang calon. Semula dia masih menolak, entah kenapa, tapi teman ini biar keras, tapi cukup sopan. Dia minta waktu pengenalan setahun dan diajaknya si calon bertemu keluarganya. Bukan untuk meminta restu, katanya, tapi dengan harapan si calon merasa tak cocok lalu perlahan menjauh. Maklum si calon dari keluarga berada, sementara si teman, apalah daya.
Ternyata, Ibu temanku malah sumringah. Si calon pun tak hendak mundur pula.
"Mungkin inilah jalanku, paling tidak menyenangkan ibuku" pikir si teman. Perlahan, temanku itu belajar menerima, dan saat bertemu, dia tampak bahagia, geraknya ringan, tawanya mulai lepas.
Mereka akan segera menikah.
Saat duduk bersama, tak tahan hati, aku berkomentar sedikit.
"Kau, telah kukenal sebagai orang yang tahan menderita. Mungkin kau sudah lulus. Saatnya ujian baru, dengan hidup senang, nah apa rencanamu untuk hidup senang?"
Alhamdulillah dia tak tampak tersinggung dengan pertanyaanku ini.
Dia bahkan terlihat senang.
Bersiap hidup senang. Ya setidaknya lewat perkawinan ini dia akan mengalami lompatan lumayan. Mendapat istri, disupport mertua untuk rumah dan kendaraan.
Dia mengaku agak shock. Terlalu cepat.
Tapi, dia setuju dengan saran seorang teman lagi yang ikut duduk bersama. "Mungkin ini buah dari jalan hidupmu selama ini jadi, saran kami, terimalah."
Dan ia tampak menerimanya.
Kembali ke pertanyaanku. Menjalani hidup senang pun rupanya perlu persiapan.
Maksudku, agar tak tersia-sia.
Karena sekian lama puasa, begitu datang sedikit lega, orang lantas berpesta, akibatnya rudin lagi.
Aku tak ingin teman itu mengalaminya.
Semoga dia siap dan menerima saran dan komentar kami, sahabatnya.

Temanku menikahlah. Arungi hidup untuk kebaruan, hari ke hari.


Jakarta, 18 Juli 2006

Rakan "Sekolah"

Kemarin, Senin, 17 Juli, anakku Rakan Amir masuk TPA.
TPA alias taman pendidikan Al quran, tak tahu sejak kapan persisnya, adalah wahana pendidikan pra sekolah yang cukup populer saat ini.
Kalau tak salah dulunya hanya belajar iqra' --metode belajar membaca dan menulis huruf arab yang beda dengan jamanku kecil dulu, turutan. Lalu, konon, gratis pula. Maka hiduplah masjid dan mushola setelah sekian lama ditinggal anak dan balita.
Entah sekarang belajar apalagi, hanya aku yakin pasti ada lagi lainnya. Untuk bisa ikut TPA di dekat rumah itu, istriku membayar sejumlah uang, untuk membeli tas, crayon, buku, pensil dan seragam.
Seragamnya seperti baju koko putih bermotif batik warna hijau. Ditambah celana panjang berwarna hijau dan peci hijau pula.
Rakan tampak tampan. Ah anakku, Alhamdulillah.
Satu tahapan dalam siklus hidup kini ditapaki Rakan.
Istriku gembira sekali. Dia ijin ke kantornya untuk datang terlambat.
Sayang, aku tak sempat mengantar hari pertama Rakan "sekolah," meski aku ingin juga.
Sorenya, cerita istriku, Rakan berani nyanyi bintang kecil di depan kelas, meski tanpa gaya.
Ah bangganya
Penguat rasa di saat bapaknya dag-dig-dug menunggu kabar dari tanah nun jauh di sana.

Jakarta, 18 Juli 2006
(Foto Rakan menyusul ya)

banu qurayza

aku tidak tahu istilah yang akrab untuk banu qurayza ini apa, puak quraisy? sepertinya bukan ya, karena suku quraisy itu kan sukunya Nabi Muhammad, padahal yang dimaksud di sini adalah suku Yahudi yang jadi musuh kaum muslim dalam perang khandaq (parit).
Nama suku ini menarik perhatian setelah dalam sebuah milis seorang pesertanya mengirimkan kisah pembunuhan banu qurayza ini untuk menunjukkan bahwa dalam sejarah (awal) Islam, pernah terjadi pembunuhan satu kaum (ethnic cleansing) dengan mengatasnamakan agama.
Semula aku meragukan cerita ini, "pastilah ini sumbernya orientalis pemutar balik sejarah," begitu pikirku semula. Apalagi rujukan awal yang dimaksud pemosting itu hanya kumpulan hadist, tanpa rujukan naratif kejadiannya.
Ternyata rujukannya ada . salah satu biografi Nabi yang kredibel pula, tulisan Muhammad Husin Haekal.
Agak tergetar juga. Karena si pengirim itu menyebutkan adanya pembunuhan terhadap anak berusia 12-15 tahun. dan itu atas perintah Nabi!
Belum sempat kubaca dengan teliti, apa memang seperti itu adanya.
Sejauh ini aku mencoba menghibur diri, bahwa ini masih perlu klarifikasi lagi. Dan aku sudah meniatkan untuk bertanya kepada mereka yang kupikir cukup ahli.

Selain soal ini, satu lagi yang ingin kutanyakan adalah soal budak. Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya budak ini dalam Islam.
Pertanyaan. Yang sudah lama terpendam, sekarang teringat lagi.
Semoga aku tidak seperti disebutkan seorang dosen sastra dari UGM, kebanyakan dari kita menerima begitu saja kebenaran yang dinisbatkan kepada agama, sebabnya tak lain karena kemalasan kita juga.
Moral, nilai-nilai kita, kebanyakan adalah warisan yang kita terima tanpa tanya, bukan sesuatu yang kita cari sendiri, apalagi dihayati sepenuh hati.

Jakarta, 18 Juli (harusnya sih dua hari lalu menulis ini)

Wednesday, July 12, 2006

Sama Rakan di Monas

sesekali bersama anak.

Punya anak , klise kedengarannya, adalah salahsatu keajaiban yang sayang sekali dilewatkan.
Menemukan seorang anak manusia dari awal , menyaksikannya tumbuh dan berubah hari ke hari , dan yang menyenangkan kita punya andil dalam proses itu.
Seperti menemukan diri sendiri.

kenapa nglangut?

Sebenarnya ini tulisan kedua.
Yang pertama, gara-gara tak mengerti, gagal tersimpan.
Sederhana saja isi yang pertama itu. Aku ulangi saja ya.
Alasan kenapa akhirnya aku punya blogger sendiri.
Sederhana juga, yaitu, karena rasa senang saja.
Banyak hal bermula dari tak sengaja dan rasa suka.
Kemarin, Selasa, 10 Juli, aku berangkat lebih pagi. Itu membuatku merasa senang. Aku jadi seperti kebanyakan pekerja commuter - penglaju Jabotabek. Berangkat lebih pagi, subuh kalau perlu, untuk lepas dari perangkap macet dan menangkap semangat kerja.
Istriku sempat curiga, dikiranya aku akan bertemu seseorang, karena sebelumnya dia sudah kuberitahu bahwa bos besar sedang pulang kampung, jadi tidak ada alasan untuk kerja lebih rajin, maksudnya datang lebih pagi. Aku yakinkan dia, aku merasa senang saja, bisa berangkat lebih pagi.
Sewaktu senang datang, ilham pun mampir, kenapa tidak aku mulai membuat blogger, untuk menandai saat-saat tertentu dalam hidupku. Itu kemarin.
Jadinya baru hari ini.
Itu pun setelah aku membaca sebuah blog dari Pak Batara Hutagalung, bermula dari postingnya di milis mediacare. Tulisannya tenang dan dalam. Tampaknya itu banyak bermula dari penghayatannya pada Budhisme yang dianutnya. Kuingat-ingat , aku pernah punya cita-cita untuk dikenal sebagai orang yang tenang dan punya pemikiran mendalam. Karena itu aku jadi ingin bisa menulis seperti dia.
Sayang, aku terlalu malas untuk menambah wawasan. Aku malah suka pada hal-hal yang instan dan bersifat segera. Karena itu aku suka komputer dan internet, meski juga cuma sekedar end user. Lebih parah lagi, aku juga orang yang cenderung ceroboh, clumshy kata istriku.
Paling tidak aku sudah ingat lagi, apa mauku, he he.
O iya kenapa nglangut?
Ini bahasa Jawa. aku sendiri lahir dan besar di Palembang, tak ada darah Jawa sedikit pun, entah berapa generasi terdahulu, tapi sejak kuliah di Yogya, aku merasa lebih mudah menemukan dunia melalui bahasa Jawa.
Iya, tapi kenapa nglangut?
Nglangut
itu kalau tak salah artinya rasa terhanyut ke dalam satu suasana yang intens karena senyap, kutemukan lagi setelah membaca rubrik tari dalam majalah tempo minggu ini.
Jadi meski agak ceroboh dan tergesa-gesa, aku ini juga sebenarnya orang yang suka nglamun, suka nglangut.
Bayarannya, kerap dicemberuti orang-orang terdekat. Dikira mikir siapa gitu.
Padahal yang nglangut saja.
Biar agak jelas, maka kubuatlah blog ini.
Begitu