Nglangut
Ini tempatku nglangut, semoga ada gunanya, karena hampir seumur hidup nglangut melulu, memandang nun dikejauhan, berjarak dan tak terlibat
Wednesday, November 13, 2013
Belajar Memotret (menyalin dari facebook)
Yogyakarta (Masihkah) Kota Pendidikan?
(Awalnya menanggapi satu kiriman di milis yang menanyakan masa depan Yogya sebagai kota pendidikan, ditandai trend menurunnya jumlah siswa/mahasiswa yang melanjutkan sekolah ke Yogya)
Saya setuju dengan dugaan seorang teman di milis dengan nama email Juragan Soekarno bahwa status Yogya sebagai kota pendidikan semakin terancam. Alasannya Yogya kini semakin kerasukan gaya hidup hedonis, bahkan akses ke situ lebih mudah (dan murah?) daripada kota Jakarta.
Mungkin saja itu benar, karena sudah lama tidak meninggalkan Yogya dan kalau sempat berkunjung tidak sempat mengamati kehidupan sekitar kampus secara cermat.
Yang segera terasa memang Yogya semakin macet. Kendaraan bermotor semakin banyak, bangunan baru juga tumbuh pesat. Dan cilakanya, tanpa karakter yang jelas. Arsitektur bangunan-bangunan baru itu berani mencampurkan bermacam gaya. Kecuali ukurannya yang jarang terlalu besar, hampir tak tampak lagi ciri kesederhanaan dan keramahan Yogya sebagaimana saya temui dulu.
Romantis amat ya? He he
Kampus-kampus (termasuk UGM) sepertinya tak luput dari gemuruh pembangunan gedung-gedung baru ini. Bahkan UGM kini tak malu-malu lagi membangun pagar pembatas dan gerbang yang kukuh angkuh untuk mencegah sembarang orang melintas di halamannya. Seorang teman dengan jitu menangkap ironi ditengah hingar bingar pembangunan ini, saat dia menengok perpustakaan (Saya sendiri tak kepikiran untuk ke sana, he he). Tak banyak perubahan pada bangunan perpustakaan itu. Tetap kusam dan tua. Itu mungkin sebabnya dia tetap kalah ramai dengan pusat perbelanjaan yang ada tak jauh darinya. Entah koleksinya, cuma sepertinya sekarang ada tambahan akses internet yang agak menaikkan daya tariknya di mata mahasiswa dan calon pengunjung lainnya.
Perpustakaan adalah salah satu tetenger (landmark) lembaga pendidikan. Di dalamnya tersimpan biographi kampus yang memangkunya. Bila sekarang pemangkunya lebih sibuk dengan bagian lain dari dirinya, bisa dibayangkan seberapa peduli sebenarnya kampus sekarang dengan misi awalnya?
Saya jadi teringat sentilan dari, kalau tak salah, Ashadi Siregar yang mempertanyakan klaim UGM sebagai universitas kerakyatan. Dulu mungkin klaim seperti itu bisa dibuktikan dengan adanya orang seperti Mubyarto yang dengan tekun dan gigih menggali, menyusun dan menyebarluaskan apa yang disebut ekonomi "kerakyatan" pancasila (yang sayangnya tak pernah kupahami dengan memadai). Lalu adanya mahasiswa dari berbagai daerah dan etnis dan terutama dari berbagai kelas sosial. Hanya saja, klaim tersebut harus diperkuat lagi dengan pengembangan kurikulum yang memang berpihak pada rakyat. Tidak begitu saja membebek pada agenda-agenda pembangunan.
Lagipula, apa yang sesungguhnya membedakan materi pelajaran di UGM, UI, Unpad, Tadulako, USU atau Cendrawasih?
Rasa-rasanya, itu cuma masalah kelengkapan materi ajar dan bahan rujukan saja. Tidak ada beda mencolok antara, misalnya sosiologi yang diajarkan di UI dan UGM, karena sesungguhnya materinya sama-sama impor. Belum ada rasanya sosiologi atau ekonomi yang khas UGM atau UI atau Unpad, sebagaimana misalnya orang bisa membedakan antara materi kuliah di Eropa yang historis dan Amerika yang pragmatis. Atau antara ekonomi universitas anu yang keynessian dan ekonomi institut ini yang monetaris.
Saya tidak tahu seberapa luas sentilan itu beredar dan seberapa jauh dampaknya terhadap pengembangan kurikulum pengajaran di UGM sampai saat ini. Yang jelas dengan bergantinya status badan hukumnya, UGM tak terelakkan kini jadi semakin mahal (ada yang bisa kasih data berapa?). Sulit membayangkan akan menemui mahasiswa dari strata bawah, apalagi bila dia hanya punya kecerdasan biasa-biasa saja, seperti halnya saya, berkeliaran di kampus UGM dalam 5 tahun ke depan.
Bila UGM, yang merupakan lokomotif kota pendidikan saja telah kian mahal (untuk tidak menyebutnya komersial), logis saja rasanya bila kita menemukan Yogya pun menjadi kian mahal dan urban. Hedonisme adalah anak haram dari urbanisasi. Tak diharapkan apalagi diakui, tetapi selalu lahir dari rahim kota.
Apa pendidikan yang baik memang harus selalu berarti murah dan berada di kota yang biaya hidupnya murah juga?
Saya nggak bisa jawab.
Beralihnya tempat kuliah ke negeri tetangga, sepertinya juga bukan alasan lebih murah (semurah-murahnya, ya hidup di negeri orang), tapi karena kualitas.
Kualitas lembaga pendidikan dari mana? Ya dari spirit awal lembaga pendidikan itu sendiri, penelitian dan pengembangan, dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat.
Lembaga pendidikan yang bagus, bukanlah yang mengabdi pada kepentingan saat ini tapi yang secara serius mempersiapkan masa depan.
Ini maunya apa to, dari ngomongin kota kok sampainya ke ideologi kampus?
Maksud saya, mempertanyakan masa depan kota pendidikan Yogyakarta, sepertinya tidak akan cukup bila hanya melihatnya dari pertumbuhan jumlah murid dan mahasiswanya saja, atau semakin tapi mungkin perlu juga menengok lebih jauh ke dalam, ruh dan desain pengembangan pendidikan itu sendiri.
Mau dibawa kemana pendidikan di Yogyakarta?
Wednesday, March 02, 2011
Ebook lagi
Hari ini numpang nge-net ke kantor teman yang koneksinya bagus.
Tuesday, March 01, 2011
Ebook
Sunday, July 06, 2008
Ingkar Janji
Yang paling terjadi adalah tertunda. Berikutnya tak terlaksana sempurna.
Soal waktu ini, harus mengaku telak, aku jamaah yang setia menunda.
Termasuk janji untuk mulai menulis lagi.
Bah.
Kadang ada ide melintas, menarik untuk ditulis, tapi begitu ketemu laptop, malah ngegame dan atau surfing. Nulisnya kapan?
Ide kadang juga muncul dari ketemu teman.
Seperti beberapa hari lalu. Kami ngobrol soal keinginannya mendirikan perguruan tinggi seni. Itu akan diupayakannya sebagai kompensasi dari dukungan terhadap seorang kandidat.
Dari obrolan itu, terbetik ide untuk menulis tentang merintis perubahan atau, karena temanya seni, merintis iklim kreatif di satu kawasan.
Dari manakah ia harus dimulai?
Dari orang per orangkah?
Dari sebuah lembaga kah? Sekolah kah itu? Masjid kah itu?
Atau dari kumpul kumpul tak mengikat?
Nah tunggu tulisanku.
Dengan catatan, moodku bagus dan waktunya dapet.
Mood naik turun karena menunggu panggilan kerja.
Nganggur.
Harusnya itu tak jadi alasan
Monday, May 26, 2008
mulai menulis lagi
Dilihat dari kemalasanku, ini tidaklah luar biasa.
Meski rasanya kok keterlaluan juga, mengingat aku selalu konek ke internet dan cukup rajin menyimak karya-karya orang lain. Apalagi sejak Januari 2008 aku menganggur (pekerjaan di mana kau? :(
Sekarang aku mau mulai lagi.
Ada banyak hal yang menarik untuk ditulis. Setidaknya menurut standar kenaifan dan kenarsisanku. He he. Tentang pengalaman kerja di lembaga yang paling menggetarkanku, misalnya. Lalu tentang Aceh. Tentang punya anak lagi ( lucuuuu banget)
Mungkin akan kumulai besok.
Sekarang menancapkan kaki dulu.
Dasar malas!
Friday, July 28, 2006
Pindah kerja

Sudah beberapa kali aku pindah kerja.
Kerja pertamaku, tahun 1999, adalah menjadi wartawan di sebuah harian kota kelahiran.
Februari, 2000, saat menghadiri perkawinan seorang teman di Bandar Lampung, aku mendapat kabar ada lowongan untuk bekerja di Jakarta.
Dengan bersembahsujud pada ibuku, aku mendapat ijin untuk berangkat ke Jakarta, keduakalinya meninggalkan lagi ibuku, setelah yang pertama pergi untuk kuliah.
Cuma tahan dua bulan, aku pindah ke sebuah situs berita online. Ini sangat menyenangkan hatiku, yang memang suka pada internet.
Hampir setahun kemudian, gelombang surut internet melanda kantorku. Kantorku tutup.
Aku gamang. Tidak tahu mau kerja apa.
Sekali pun aku jadi rudin, nginep di kantor organisasi, aku belum tergerak untuk cari kerja lagi.
Untung ada teman yang mengajak kerja freelance.
Saat akan menikah, barulah aku dapat kerja tetap lagi, di sebuah majalah.
Rasanya baru kali ini aku mendapat pelajaran cara kerja wartawan yang baik.
Menarik, sangat menarik. Jadi tahu dan bangga pada kerja wartawan.
Sayang gajinya hanya layak untuk bujangan.
Enam bulan di sana, aku cabut. Pindah ke proyek organisasi.
Berjalan hampir setahun, aku lompat lagi, masuk ke sebuah yayasan milik sutradara terkenal.
Hampir dua tahun di sana, aku pun pindah lagi.
Ke sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayang olehku.
Tapi pekerjaan ini pula yang mengantarku ke sebuah lembaga internasional. Dan sekarang aku sedang bersiap pindah lagi.
Perpindahan paling serius dalam hidupku.
Aku akan masuk dalam lingkungan dengan disiplin tertinggi yang pernah akan aku masuki.
Sejak tahu akan diwawancara, aku sudah panas dingin.
Untung wawancaranya lancar.
Pagi, beberapa minggu lalu, HPku berdering.
Aku diterima.
Aku agak gelagapan.
Setengah tak percaya aku diterima.
Tawar menawarnya tak begitu rumit
Yang berat adalah memberitahu tempatku bekerja sekarang.
Sampe mules.
Soalnya adalah, ada beberapa proyek yang membutuhkan kehadiranku.
Kalau aku tak ada bagaimana ceritanya?
Dengan menguatkan hati, aku mengirimkan surat pengunduran diri.
Hari ini suratku direspon.
Ternyata lebih lancar dari yang kuduga.
Ah leganya.
Semoga ini jadi cambuk agar aku bisa lebih optimal di tempat baru.
Sedihnya, aku akan ke sana, tanpa anak istri.
........... (nglangut lagi)
Jakarta, 28 Juli
Tuesday, July 18, 2006
Teman akan menikah
Seorang teman akan menikah.
Teman lama, pernah cukup akrab, sekarang karena akan sekota lagi, Insya Allah akan akrab lagi.
Teman ini, entah karena apa, pernah berikrar tidak akan menikah. "Menikah itu kebutuhan, bukan kewajiban, aku tidak butuh menikah," jelasnya.
Melalui proses yang agak berbelit, dia akhirnya bertemu sang calon. Semula dia masih menolak, entah kenapa, tapi teman ini biar keras, tapi cukup sopan. Dia minta waktu pengenalan setahun dan diajaknya si calon bertemu keluarganya. Bukan untuk meminta restu, katanya, tapi dengan harapan si calon merasa tak cocok lalu perlahan menjauh. Maklum si calon dari keluarga berada, sementara si teman, apalah daya.
Ternyata, Ibu temanku malah sumringah. Si calon pun tak hendak mundur pula.
"Mungkin inilah jalanku, paling tidak menyenangkan ibuku" pikir si teman. Perlahan, temanku itu belajar menerima, dan saat bertemu, dia tampak bahagia, geraknya ringan, tawanya mulai lepas.
Mereka akan segera menikah.
Saat duduk bersama, tak tahan hati, aku berkomentar sedikit.
"Kau, telah kukenal sebagai orang yang tahan menderita. Mungkin kau sudah lulus. Saatnya ujian baru, dengan hidup senang, nah apa rencanamu untuk hidup senang?"
Alhamdulillah dia tak tampak tersinggung dengan pertanyaanku ini.
Dia bahkan terlihat senang.
Bersiap hidup senang. Ya setidaknya lewat perkawinan ini dia akan mengalami lompatan lumayan. Mendapat istri, disupport mertua untuk rumah dan kendaraan.
Dia mengaku agak shock. Terlalu cepat.
Tapi, dia setuju dengan saran seorang teman lagi yang ikut duduk bersama. "Mungkin ini buah dari jalan hidupmu selama ini jadi, saran kami, terimalah."
Dan ia tampak menerimanya.
Kembali ke pertanyaanku. Menjalani hidup senang pun rupanya perlu persiapan.
Maksudku, agar tak tersia-sia.
Karena sekian lama puasa, begitu datang sedikit lega, orang lantas berpesta, akibatnya rudin lagi.
Aku tak ingin teman itu mengalaminya.
Semoga dia siap dan menerima saran dan komentar kami, sahabatnya.
Temanku menikahlah. Arungi hidup untuk kebaruan, hari ke hari.
Rakan "Sekolah"
TPA alias taman pendidikan Al quran, tak tahu sejak kapan persisnya, adalah wahana pendidikan pra sekolah yang cukup populer saat ini.
Kalau tak salah dulunya hanya belajar iqra' --metode belajar membaca dan menulis huruf arab yang beda dengan jamanku kecil dulu, turutan. Lalu, konon, gratis pula. Maka hiduplah masjid dan mushola setelah sekian lama ditinggal anak dan balita.
Entah sekarang belajar apalagi, hanya aku yakin pasti ada lagi lainnya. Untuk bisa ikut TPA di dekat rumah itu, istriku membayar sejumlah uang, untuk membeli tas, crayon, buku, pensil dan seragam.
Seragamnya seperti baju koko putih bermotif batik warna hijau. Ditambah celana panjang berwarna hijau dan peci hijau pula.
Rakan tampak tampan. Ah anakku, Alhamdulillah.
Satu tahapan dalam siklus hidup kini ditapaki Rakan.
Istriku gembira sekali. Dia ijin ke kantornya untuk datang terlambat.
Sayang, aku tak sempat mengantar hari pertama Rakan "sekolah," meski aku ingin juga.
Sorenya, cerita istriku, Rakan berani nyanyi bintang kecil di depan kelas, meski tanpa gaya.
Ah bangganya
Penguat rasa di saat bapaknya dag-dig-dug menunggu kabar dari tanah nun jauh di sana.
Jakarta, 18 Juli 2006
(Foto Rakan menyusul ya)
banu qurayza
Nama suku ini menarik perhatian setelah dalam sebuah milis seorang pesertanya mengirimkan kisah pembunuhan banu qurayza ini untuk menunjukkan bahwa dalam sejarah (awal) Islam, pernah terjadi pembunuhan satu kaum (ethnic cleansing) dengan mengatasnamakan agama.
Semula aku meragukan cerita ini, "pastilah ini sumbernya orientalis pemutar balik sejarah," begitu pikirku semula. Apalagi rujukan awal yang dimaksud pemosting itu hanya kumpulan hadist, tanpa rujukan naratif kejadiannya.
Ternyata rujukannya ada . salah satu biografi Nabi yang kredibel pula, tulisan Muhammad Husin Haekal.
Agak tergetar juga. Karena si pengirim itu menyebutkan adanya pembunuhan terhadap anak berusia 12-15 tahun. dan itu atas perintah Nabi!
Belum sempat kubaca dengan teliti, apa memang seperti itu adanya.
Sejauh ini aku mencoba menghibur diri, bahwa ini masih perlu klarifikasi lagi. Dan aku sudah meniatkan untuk bertanya kepada mereka yang kupikir cukup ahli.
Selain soal ini, satu lagi yang ingin kutanyakan adalah soal budak. Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya budak ini dalam Islam.
Pertanyaan. Yang sudah lama terpendam, sekarang teringat lagi.
Semoga aku tidak seperti disebutkan seorang dosen sastra dari UGM, kebanyakan dari kita menerima begitu saja kebenaran yang dinisbatkan kepada agama, sebabnya tak lain karena kemalasan kita juga.
Moral, nilai-nilai kita, kebanyakan adalah warisan yang kita terima tanpa tanya, bukan sesuatu yang kita cari sendiri, apalagi dihayati sepenuh hati.
Jakarta, 18 Juli (harusnya sih dua hari lalu menulis ini)