
Sudah beberapa kali aku pindah kerja.
Kerja pertamaku, tahun 1999, adalah menjadi wartawan di sebuah harian kota kelahiran.
Februari, 2000, saat menghadiri perkawinan seorang teman di Bandar Lampung, aku mendapat kabar ada lowongan untuk bekerja di Jakarta.
Dengan bersembahsujud pada ibuku, aku mendapat ijin untuk berangkat ke Jakarta, keduakalinya meninggalkan lagi ibuku, setelah yang pertama pergi untuk kuliah.
Cuma tahan dua bulan, aku pindah ke sebuah situs berita online. Ini sangat menyenangkan hatiku, yang memang suka pada internet.
Hampir setahun kemudian, gelombang surut internet melanda kantorku. Kantorku tutup.
Aku gamang. Tidak tahu mau kerja apa.
Sekali pun aku jadi rudin, nginep di kantor organisasi, aku belum tergerak untuk cari kerja lagi.
Untung ada teman yang mengajak kerja freelance.
Saat akan menikah, barulah aku dapat kerja tetap lagi, di sebuah majalah.
Rasanya baru kali ini aku mendapat pelajaran cara kerja wartawan yang baik.
Menarik, sangat menarik. Jadi tahu dan bangga pada kerja wartawan.
Sayang gajinya hanya layak untuk bujangan.
Enam bulan di sana, aku cabut. Pindah ke proyek organisasi.
Berjalan hampir setahun, aku lompat lagi, masuk ke sebuah yayasan milik sutradara terkenal.
Hampir dua tahun di sana, aku pun pindah lagi.
Ke sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayang olehku.
Tapi pekerjaan ini pula yang mengantarku ke sebuah lembaga internasional. Dan sekarang aku sedang bersiap pindah lagi.
Perpindahan paling serius dalam hidupku.
Aku akan masuk dalam lingkungan dengan disiplin tertinggi yang pernah akan aku masuki.
Sejak tahu akan diwawancara, aku sudah panas dingin.
Untung wawancaranya lancar.
Pagi, beberapa minggu lalu, HPku berdering.
Aku diterima.
Aku agak gelagapan.
Setengah tak percaya aku diterima.
Tawar menawarnya tak begitu rumit
Yang berat adalah memberitahu tempatku bekerja sekarang.
Sampe mules.
Soalnya adalah, ada beberapa proyek yang membutuhkan kehadiranku.
Kalau aku tak ada bagaimana ceritanya?
Dengan menguatkan hati, aku mengirimkan surat pengunduran diri.
Hari ini suratku direspon.
Ternyata lebih lancar dari yang kuduga.
Ah leganya.
Semoga ini jadi cambuk agar aku bisa lebih optimal di tempat baru.
Sedihnya, aku akan ke sana, tanpa anak istri.
........... (nglangut lagi)
Jakarta, 28 Juli
